26128666493_970fd57c02_b

Sebuah turnamen catur tingkat dunia yang akan diselenggarakan di Iran pada 2017 mendatang, kabarnya mendapat tentangan dari banyak Grandmaster (GM) perempuan level dunia, karena suatu hal yang sangat prinsipil.

Dilansir dari Tribunnews para pecatur perempuan papan atas dunia dikabarkan telah diminta mengenakan hijab jika mereka ingin berpartisipasi dalam kejuaraan dunia catur yang digelar di Teheran, Iran tahun depan.

Kejuaraan dunia catur ini dijadwalkan dimulai pada Maret 2017, tetapi sejumlah Grandmaster perempuan sudah mengancam akan memboikot turnamen itu jika mereka tetap dipaksa mengenakan hijab.

Organisasi catur sedunia FIDE kini menghadapi kritik dan tekanan karena keputusannya menunjuk Iran sebagai tuan rumah turnaman.

FIDE juga dianggap gagal untuk mempertahankan hak-hak perempuan khususnya para Grandmaster yang akan berpartisipasi dalam kejuaraan itu jika memang pihak tuan rumah tetap memaksakan pengenaan jilbab,.

Juara catur Inggris Nigel Short lewat akun Twitternya mengatakan, FIDE telah melanggar statutanya sendiri yang menentang diskriminasi berdasarkan agama atau jender.

Juara AS, Grandmaster Nazi Paikidze juga mengungkapkan kekecewaannya karena harus absen di kejuaraan dunia pertamanya karena banyak alasan.

“Sangat tak bisa diterima menggelar sebuah turnamen perempuan terpenting di tempat di mana cara berpakaian perempuan masih diatur dengan ketat,” ujar pecatur kelahiran Georgia itu.

“Saya memahami dan menghargai perbedaan kebudayaan. Namun, tak bisa memaham saat pelanggaran kebudayaan setempat bisa berbuah penjara dan hak-hak perempuan diabaikan,” tambah dia.

“Saya merasa tak aman untuk berlaga di sana,” lanjut pecatur perempuan itu.

Mantan juara Pan Amerika, Carla Heredia asal Ekuador sepakat dengan Paikidze soal keharusan mengenakan hijab saat berlaga di Iran.

“Tak ada institusi, tak ada pemerintahan, atau kejuaraan catur dunia yang bisa memaksa perempuan mengenakan atau melepas hijab,” kata Carla.

Namun, Grandmaster asal Hungaria Susan Polgar mengatakan dia tak keberatan mengenakan hijab jika aturan ii juga diberlakukan untuk semua peserta.

“Saat saya mengunjungi tempat berbeda denan kebudayaan yang berbeda, saya ingin menunjukkan rasa hormat saya dengan berpakaian seperti adat setempat. Tak ada yang memaksa saya melakukan itu. Saya melakukannya demi menghormati adat setempat,” ujar Polgar.

Namun, Paikidze lewat akun Twitter-nya mengatakan, dengan mengenakan hijab maka para pecatur ini ikut mendukung penindasan terhadap perempuan.

Sementara itu, komisi catur perempuan FIDE mempertahankan keputusannya menunjuk Teheran menjadi tuan rumah dan mengatakan agar peserta menghormati adat istiadat setempat.

Komentar

komentar