Kemenangan Indonesia selangkah lagi, dimana leg pertama berhasil dikuatasi oleh Boaz dan kawan-kawan.

Sayangnya piala AFF menganut sistem gol tandang dimana Thailand sudah diuntungkan. Jika mereka menang 1-0 saja maka kemenangan akan dimiliki oleh tim Thailand. Tentu hal ini yang harus diakali dan diperhatikan oleh Riedl dan tim. Bagaimana Indonesia bangun dari kenyataan bahwa mereka akan sekali lagi bertanding di stadion Bangkok. Selain itu leg kedua pasti tidak akan mudah, dimana Indonesia akan dihadapkan dengan evaluasi Thailand yang lebih baik, suporter Thailand yang lebih banyak dan juga pemain yang memiliki strategi baru.

Indonesia akan menang jika skor selisih satu pada poin 3 itu membuat agregrat imbang, namun Indonesia unggul dalam hal produktivitas gol tandang ataupun Jika Indonesia kalah dengan skor 2-1 di final leg kedua, maka agregatnya menjadi 3-3 dan akan dilanjutkan ke babak tambahan karena kedua tim tidak unggul produktivitas di kandang lawan.  Apabila skor menghasilkan seri dan lebih 1 poin maka Indonesia akan tetap menang.

Namun jika Thailand memiliki perbedaan poin dengan Indonesia sebesar 2-1, 5-3 maka sudah dipastikan Indonesia akan kalah. Selain itu juga jika Indonesia kalah 0-1 saja maka kemenangan Indonesia tidak akan pernah ada.

Pelatih Thailand, Kiatisuk Senamuang membuat kejutan pada final leg pertama Piala  AFF 2016 di Stadion Pekansari, Cibinong, Rabu (14/12/2016). Tim Gajah Putih menampilkan skema permainan 4-4-2, yang selama ini diusung pelatih Alfred Riedl. Perubahan ini agak mengejutkan karena sepanjang Piala AFF 2016, Thailand lebih sering bermain dengan formasi dasar 3-4-3, 4-3-3, 3-4-1-2. Terlihat bahwa Zico, panggilan akrab pelatih Thailand justru mengikuti Riedl dalam mengarahkan anak-anaknya. Sayangnya keunggulan tim Indonesia untuk bermain terbuka semalam benar-benar membuahkan hasil dibanding strategi sebelumnya.

Prev1 dari 2
Klik Next untuk melihat halaman selanjutnya

Komentar

komentar