Gelandang AS Roma Radja Nainggolan mengungkapkan kesedihannya setelah mengetahui Timnas Indonesia gagal menjuarai Piala AFF 2016. Selain mengungkapkan kesedihannya, Nainggolan juga mendoakan agar Timnas Indonesia bisa menjadi tim yang lebih baik lagi di masa depan.

Setidaknya sudah tiga kali Nainggolan kerap mengunggah tulisan dan video untuk mendukung Timnas Indonesia. Maklum saja, ada darah Indonesia di tubuh pemain Timnas Belgia itu.

Nainggolan yang lahir di Antwerpen, Belgia, merupakan keturunan dari Indonesia. Ibunya bernama Lizy Bogaerts menikah dengan seorang bersuku Batak Toba, Marianus Nainggolan.

Hasil tersebut pun amat menyakitkan bagi timnas Indonesia. Pasalnya, ini merupakan final kelima yang mereka dapatkan selama mengikuti AFF Cup sejak tahun 1996 lalu.

“Sangat menyesal mendengar Anda kalah, Indonesia. Semoga lebih baik di masa depan. #AFFCup,” tulis Nainggolan di twitter resmi miliknya.

Kicauan yang dituliskan oleh pemain berdarak Batak tersebut buat timnas Indonesia bukanlah pertama kalinya dirinya lakukan. Sebelumnya, Nainggolan juga turut memberikan motivasi untuk Boaz Solossa dan kawan-kawan menjelang laga final leg kedua.

Radja Nainggolan menjadi pergunjingan di jagat sepak bola Italia berkat penampilan gemilangnya bersama Cagliari musim ini. Bahkan, pemain berusia 23 tahun tersebut diincar tim juara Seri A Liga Italia, AC Milan.

Radja meniti karier di Seri A Liga Italia seperti pemain lainnya. Ia bergabung dengan Cagliari musim panas lalu setelah membela Piacenza selama tiga musim. Permainan cemerlangnya musim ini membuat AC Milan, Inter Milan, dan Napoli, kepincut.

Radja lahir di Antwerp, Belgia, dari ayah asal Indonesia, Marianus Nainggolan, dan ibu asal Belgia, Lizy Bogaerts. Radja memiliki dua adik perempuan kembar dan tiga saudara tiri. Semua saudaranya tinggal bersama ayah mereka di Bali. Ayah dan ibu Radja berpisah ketika Radja masih berusia enam tahun.

Adik perempuan Radja ikut ayah mereka ke Indonesia. Sementara, Radja tinggal bersama ibunya.

Bakat sepak bola Radja mulai terasah di Germinal Beerschot. “Sejak kecil saya suka main bola. Bahkan ketika berusia lima tahun, saya masuk sebuah tim di kota saya,” ujar Radja. “Pada usia 10 tahun, saya pindah ke Germinal Beerschot. Saya mengasah kemampuan saya di sana saat remaja.”

Komentar

komentar