STRIKER.ID – Saat ini kita jelas sedang dalam euforia yang luar biasa kepada keberhasilan anak muda berusia 17 tahun bernama Egy Maulana Vikri, yang sukses dikontrak tim divisi teratas Liga Polandia Lechia Gdansk.

Namun Sebelum Egy, ada pula anak muda yang pernah melambungkan angan – angan kita, ketika ia juga sempat mengarungi kompetisi di Amerika Serikat dan Eropa.

Syamsir Alam, nama ini tentu tidak asing bagi anda. Setelah lama tak merumput di lapangan hijau, dan mulai menggeluti dunia keartisan, rupanya tidak membuat pemuda berusia 25-tahun ini kehilangan asa nya untuk kembali ke Stadion.

“Saya nggak menyerah. Tiap hari, ketika akan tidur saya masih selalu memikirkan tentang sepakbola,” ujar Syamsir Alam saat  ditemui Striker.ID di beberapa waktu yang lalu.

Meskipun saat ini tidak aktif sebagai pemain bola, namun pemain yang biasa berperan sebagai striker tersebut merasa dengan usianya yang masih muda, ia masih bisa bersaing di kompetisi level teratas.

- Advertisement -

“Umur saya baru 25 tahun. Kita nggak tahu, setahun atau dua tahun ke depan bakal seperti apa,” sambungnya.

Meskipun saat ini pemain jebolan SAD Uruguay tersebut tengah menjalani karir baru di dunia entertain, namun ia mengaku tak bermimpi besar untuk bisa kembali berkarir di sepakbola dalam waktu dekat ini.

Mantan pungawa DC United ini justru menumpukan asa pada sang adik, yang kini mengikuti jejaknya sebagai pesepakbola.

“Kalau saya  mungkin sudah ada karir lain saat ini. Saya berpikir, apapun akan saya jalani asalkan halal dan tak merugikan orang lain ya saya lakukan,” aku pemain yang pernah bermain untuk Sriwijaya FC tersebut.

Syamsir juga mengakui saat ini sedang menikmati profesi barunya sebagai pembawa acara jalan – jalan di salah satu program TV swasta.

“Sekarang saya di dunia entertain dengan menjadi host ‘My Trip My Adventure’. Nggak ada salahnya, toh tak merugikan orang lain,” ujar pemain kelahiran 6 Juli 1992 ini.

Lebih lanjut, pemain yang sempat digadang-gadang sebagai pemain masa depan Indonesia ini juga menyebut adanya faktor non teknis yang juga menghalangi laju karirnya di Tanah Air.

Faktor-faktor non teknis ini antara lain ekpektasi yang terlalu besar dari publik, serta adanya kecemburuan dari sejumlah pihak terkait statusnya sebagai pemain yang pernah merumput di luar negeri.

“Ini tantangan terbesar saya. Kalau di lapangan, saya masih bisa handle. Namun, di luar lapangan terkadang sulit sekali. Banyak hal – hal di luar sepakbola yang terkadang membuat pemain muda sulit maju disini. Ini yang harus kita perbaiki bersama,” ungkapnya.

Selain itu, Syamsir juga menyebut banyak faktor lain di luar urusan lapangan hijau, yang kian menyulitkannya beradaptasi di Indonesia.

Salah satunya adalah kurangnya penerapan fairplay di sepakbola Indonesia.

“Jika di lapangan saja sulit fairplay, bagaimana lagi di luar lapangan. Sepakbola ya sepakbola, politik ya politik,” tukasnya.

Sebagai pemain yang usianya tergolong masih sangat mudah, saat ini harusnya di telah melang-lang buana di klub-klub besar Tanah Air.

Soal banyak adik -adiknya yang mungkin juga mencoba peruntungan di luar negeri, Syamsir pun menyampaikan pesan kepada publik khususnya. Bahwa masyarakat Indonesia terkadang punya ekspektasi yang tinggi, padahal perjuangan di luar berbeda dengan di negeri sendiri.

“Mental adalah yang utama. Bukan mental menghadapi persaingan di sana, namun lebih dalam menghadapi harapan tinggi publik di Tanah Air. Terkadang masyarakat belum tahu, bahwa persaingan di luar negeri sangat berbeda dengan di Liga Indonesia, sehingga butuh proses,” pungkasnya.

Pencapaian Syamsir sendiri sebagai striker bertipe pekerja dan pernah menjadi top skor dari tim SAD Indonesia dengan mengemas 15 gol dari 29 laga yang dilakoninya di kompetisi Liga U-17 Quinta Division 2008 malah tak sekalipun dilirik oleh klub-klub Tanah Air.

 

Komentar

komentar