STRIKER.ID – Sebagai klub yang terkenal sebagai pemain terbaik dunia, Real Madrid tentu menjadi dambaan setiap pemain dunia, apalagi hanya pemain-pemain pilihan saja yang mampu menjadi bagian klub Ibu Kota Spanyol tersebut.

Setelah mampu menjadi bagian disana, para pemain akan dihadapkan dengan persaingan ketat merebutkan tempat pertama, dan sebenarnya inilah fase yang paling berbahya bagi pemain Real Madrid.

Kebiasaan Real Madrid yang hobi menumpuk pemain bintang menjadi pedang bermata dua yang mampu meninggikan sekaligus meruntuhkan pamor seorang pemain.

Seperti halnya lilin yang berjajar, lilin redup bakal semakin redup jika disandingkan dengan lilin-lilin yang membara, perumpamaan tersebut berlaku untuk perebutan tempat di Real Madrid. Banyak sekali pemain yang bersinar diklub asalnya meredup bahkan padam di Real Madrid.

Berikut ini beberapa pemain yang meredup setelah bergabung bersama Real Madrid.

- Advertisement -

 

Nuri Sahin

Penampilan Nuri Sahin bersama Borussia Dortmund mengundang decak kagum penikmat sepakbola Jerman. Sepulang dari Feyenoord (pinjaman) pada tahun 2008, Nuri menjadi andalan lini tengah ditahun-tahun sesudahnya. Nuri mengalami puncak karirnya pada masim 2011 dengan dinobatkannya sebagai pemain terbaik Jerman kala itu.

Diusianya yang baru menginjak 22 tahun, pemain berdarah Turki tersebut diproyeksi sebagai pemain bintang masa depan.

Namun harapan tersebut sirna saat dia memutuskan bergabung dengan Real Madrid. Kalah bersaing ditempat utama membuat Nuri terhempas dari skuat utama Madrid. Alih-alih menjadi batu loncatan Nuri justru dipingpong ke Liverpool dan klub lamanya.

Setelah semusim di Dortmund sebagai pemain pinjaman, Nuri akhirnya resmi pulang pada 2014. Namun sinarnya sudah meredup dan dia kehilangan performanya yang dulu.

 

Javier Saviola

Javier Saviola adalah salah satu pemain yang punya kesempatan membela dua klub raksasa La Liga, Barcelona dan Real Madrid.

Memulai kariernya bersama Barcelona, Saviola sukses memecahkan sejumlah rekor disana. Postur tubuhnya yang kecil dan gempal mengingatkan pada sosok legenda Argentina Maradona. Dia pun sukses menyabut Golden Boot dan berjajar dengan penyerang terbaik dunia lainnya kala itu.

Namun raihan menterang bersama Barcelona tak cukup membuatnya bertahan dari gerusan waktu. Meskipun sudah membela El Blaugrana sejak berumur 19 tahun, Saviola dilepas oleh Barcelona pada 2007.

Real Madrid akhirnya menjadi pelabuhan barunya setelah diboyong dengan status bebas transfer. Namun bermain bersama klub rival nampaknya tak semudah dibayangkan. Selama dua tahun berkostum Madrid, Saviola hanya mencatatkan 17 kali penampilan saja dengan empat gol.

Nicolas Anelka

Nicolas Anelka memulai kariernya bersama Paris Saint Germain pada usia 17 tahun. Karena performa apiknya bersma Le Parisien, Arsene Wenger akhirnya mengajaknya bergabung ke Arsenal pada 1997. Dibawah asuhan tangan dingin Wenger, Anelka menjadi bomber haus gol andalan The Gunner selama dua musim, sebelum akhirnya dia memilih peruntungan baru di La Liga Spanyol

Menyandang status sebagai pemain muda, Anelka kesulitan menembus skuat utama Madrid. Apalagi saat itu legenda Perancis ini harus bersaing dengan Raul Gonzales dan Fernando Morientes yang masih dipuncak performa.

Akhirnya dia hanya mampu bertahan selama satu musim saja dengan 19 kali caps bersama Real Madrid.

Untungnya setelah melanglang buana dan berpindah-pindah klub selama delapan tahun, Anelka sukses menemukan puncak perfromanya bersama Chelsea. Dia bergabung bersama The Blues pada 2008 silam dan bertahan empat musim disana.

 

Antonio Cassano

Antonio Cassano tak hanya terkenal karena kepiawaiannya mengolah sikulit bundar, namun juga aksi –aksi kontroversialnya  didalam lapangan. Meskipun sering bersitegang dengan pemain belakang lantaran tak terima disenggol, Casanno mampu bertahan di AS Roma selama lima musim.

Bersama Serigala Ibukota dia hanya mampu meraih Super Copa Italia pada tahun 2001. Karena itu dia mencoba perutungan baru bersama Real Madrid.

Namun kebiasaan buruknya di Roma justru membawa malapetakan baginya. Cassano dikenal sebagai pemain yang tempramental dengan catatan panjang mengenai tindakan indisipliner. Hal tersebut membuatnya terlibat perseteruan dengan beberapa rekannya dan juga Fabio Capello yang saat itu jadi manajer disana.

Diboyong  El Real pada tahun 2006, Cassano hanya mampu bertahan semusim saja kemudian dia dikembalikan kehabitatya di Italia bersama Sampdoria sebagai pemain pinjaman. Dari sana akhirnya Cassano mendapatkan tempat dan resmi dipermanenkan pada tahun 2008.

Van Der Vaart

Salah satu blunder yang paling diingat Van Der Vaart adalah bergabung bersama Real Madrid. Bagaimana tidak, pemain jebolan Ajax Amsterdam tersebut begitu sukses di Eredevisie. Selama kiprahnya di Belanda dia sukses menyabet beberapa gelar seperi Golden Boy 2003, Amsterdam Talent Of The Year : 2000 dan juga European Talent of the Year 2002.

Sama dengan Nuri Sahin, dengan sederet penghargaan tersebut Van Der Vaart diproyeksi sebagai bintang masa depan Belanda. Namun semuanya pupus saat dia bergabung bersama Real Madrid.

Dia kalah bersaing dengan kompatriotnya, Wesley Sneijder yang lebih banyak diturunkan. Alhasil dia banyak duduk dibangku cadangan karena secara teknis gaya bermain Sneijder lebih cocok untuk Madrid daripada Van Der Vaart

.

Klass Jan Huntelaar

Sama seperti seniornya Van Der Vaart, Huntelaar juga kehilangan kilaunya bersama Real Madrid. Padahal saat bermain bersama Ajax dia menjadi wonderkid yang mampu mencetak 76 gol dari 92 penampilannya. Jadi tak heran saat itu Huntelaar ramai diperebutkan oleh para raksasa Eropa

Sayangnya lagi-lagi ketatnya persaingan membuat Huntelaar meredup. Huntelaar sempat diberi kepercayaan tampil sebagai starter dibeberapa laga awal ditahun debutnya. Namun karena tak kunjung memenuhi eksepetasi, bangku cadanganpun menjadi sahabat baiknya.

Dia pun akhirnya dibuang dan bergabung dengan AC milan pada tahun yang sama saat pembeliannya (2009).

 

Michael Owen

Michael Owen membesarkan namanya bersama Liverpool. Diplot menjadi juru gedor The Reds, Owen menjelma menjadi penyerang yang ditakuti dengan keluwesan badannya ketika menggocek bola.

Bersama The Reds Owen menemukan puncak kejayaan hingga akhirnya mampu meraih Ballon d’Or pada tahun 2011. Gelar tersebut membuatnya menjadi pemain Inggris terakhir yang meraih gelar paling bergensi bagi pemain diseluruh dunia tersebut.

Namun keputusannya bergabung dengan Madrid pada 2004 menjadi petaka buatnya. Owen kewalahan bersaing dengan Raul Gonzales yang merupakan penyerang utama Madrid. Alhasil Owen kerap menjadi penghangat bangku cadangan, sekalipun bermain dia jarang sekali diplot menjadi starter.

Kondisi tersebut diperparah dengan bekapan cedera yang membuatya begitu akrab dengan tim medis klub.

Kaka

Tahun 2009 menjadi tahun sensasional setelah Real Madrid memboyong dua nama besar Eropa, Cristiano Ronaldo dan juga Kaka.

Namun sayang Kaka yang dibeli dengan harga 68,5 juta pounds justru tampil melempem bersama Real Madrid.

Sebetulnya permainan winger asal Brasil tersebut tak begitu mengecewakan, hanya saja performa dan forduktifitasnya menurun dari tahun ketahun.

Padahal semasa di AC Milan dia sukses menyabet beberapa gelar bergensi seperti Ballon d’Or pada 2007, Best Player FIFA 2006/07 dan top skor liga Champion musim 2006/07.

Karena kesulitan menemukan perfroma terbaiknya, alhasil pada tahun terakirnya Kaka lebih banyak dibangku cadangkan.

Akhirnya pada tahun 2013, si anak emas pulang kembali ke AC Milan, namun saja kondisinya benar-benar berbeda. Dia hanya mampu bertahan semusim saja dan kemudian pergi ke MLS untuk mempersiapkan hari tuanya.

 

Komentar

komentar