photo: bola.net

STRIKER.ID-Tidak sampai satu tahun, gelaran sepakbola Liga 1 akhirnya bisa terselesaikan dan klub Bhayangkara FC menjadi jawara di kompetisi musim 2017 ini. Meski PSSI telah mengumumkan pemenangnya, Liga 1 tahun ini juga menyisakan banyak catatan kontroversi.

Mulai dari pro dan kontra penggunaan jasa wasit asing, penambahan poin Bhayangkara FC, perkelahian antar pemain dan official tim, hingga denda ratusan juta rupiah terhadap klub, suporter maupun panpel menjadi cerita “tragis” dari Liga yang terbilang”ganas” ini.

Putuskan Move On Dari Posisi Aslinya, 3 Pemain Nasional Ini Justru Raih Kesuksesan

Kondisi itupun disoroti oleh General Manajer Arema FC, Ruddy Widodo, Ia  menilai beberapa catatan “kontroversi” itu penerapannya belum sepenuhnya konsisten.

Liga 1 tahun ini sebenarnya sudah berjalan baik, regulasinya sudah bagus. Namun, penerapanya masih sering tidak konsisten sehingga banyak menimbulkan kontroversi,” kata Ruddy Widodo dikutip dari bolasport.com.

Ruddy mencontohkan penerapan denda untuk pelanggaran suporter seperti menyalakan cerawat, bom asap, petasan hingga nyanyian rasis terbilang tidak sedikit mencapai puluhan juta.

Namun denda berupa uang puluhan hingga ratusan juta tetap tidak akan menghentikan atau memberikan efek jera kepada suporter.

Suporter akan terus mengulangi kesalahannya karena mereka tidak membayar denda tersebut, namun klub yang terkena imbasnya.

Manajer yang juga pengusaha ini menyarankan pada PSSI jika hukuman akan lebih efektif jika diganti dengan laga usiran atau tanpa penonton.

“Mungkin lebih efektif ketika hukuman diubah menjadi pertandingan tanpa penonton atau dimainkan di luar kandang,” tegas Ruddy.

Hampir 70 Persen Suara Setuju Carlo Anceloti Menjadi Pelatih Italia Yang Baru

Manajemen Arema FC juga ingin operator liga harus tegas dan teliti dalam menerapkan regulasi yang sudah disetujui bersama sebelum kompetisi dimulai.

Seperti masalah regulasi soal memainkan pemain muda usia 23 tahun. Regulasi tersebut dinilai memang cukup bagus, Krena bertujuan untuk mencari bibit muda baru sebagai penerus Timnas. Namun akhirnya regulasi itu dihilangkan, entah karena apa, namun jika disoroti oleh beberapa kalangan, PSSI dianggap tidak konsisten, dan akhirnya hal itu berdampak kepada para pemain muda, disadari atau tidak mereka hanya dianggap sebagai “korban” pemenuhan regulasi saja.

“Jika regulasi yang sudah disepakati bisa dijalankan dengan maksimal, tim bisa konsentrasi saat bertanding,” pungkas Ruddy.

 

Komentar

komentar