Photo: striker.id/ Srdjan Ostojic

STRIKER.ID –Arema FC musim ini mencatatkan sejarah. Dengan pertama kali dalam perjalanan klubnya mereka menggunakan jasa kiper asing asal Serbia Srdan Ostojic. Ostojic resmi dikontrak pada putaran kedua Liga 1 2018.

Selain bagi Arema sendiri, kontrak Ostojic juga menarik bagi sepakbola nasional, hal ini karena dalam perjalanan sejarah Liga Indonesia, hanya bisa dihitung dengan jari keberadaan penjaga gawang impor.

Bahkan di kompetisi musim 2018, sebelum Ostojic, tercatat hanya ada satu nama kiper asing yang aktif bermain, yaitu Yoo Jae Hoon bersama Mitra Kukar.

Lalu bagaimana kiprah kiper – kiper asing sebelum Ostojic di Liga Indonesia? Berikut adalah rangkuman, yang dikumpulkan striker.id dari berbagai sumber:

  1. Darryl Sinerine (Petro Kimia Putra 1994)

Buat kids zaman now, dijamin nyaris tidak tahu sosok yang satu ini. Tapi Darryl boleh dibilang merupakan kiper asing pertama yang bertugas  di Liga Indonesia.

Pria asal Trinidad & Tobago ini menjadi andalan Petro saat itu. Kiprahnya banyak membuat masyarakat berdecak kagum.  Bahkan kala itu Darryl juga sukses membawa tim asal Gresik Jatim tersebut melenggang ke final liga dan bersua Persib Bandung.

  1. Mambaoulu Mbeng Jean (Persija 1997)

Kesuksesan Petro denga Darryl saat itu juga menginspirasi tim asal Ibu Kota Persija Jakarta untuk melakukan hal yang sama. Mereka pun mengontrak kiper asal Kamerun Mambaoulu Mben Jean yang kala itu masih berusia 19 tahun.

Mbeng Jean sendiri sukses jadi palang pintu terakhir di Macan Kemayoran, bahkan ia juga membawa Persija meraih gelar juara liga di musim 2000/2001. Setelah lama bermain di Persija, Mbeng Jean juga sempat memperkuat PSPS Pekanbaru dan PSMS Medan, sebelum akhirnya gantung sarung tangan, dan kini memiliki SSB di Prancis.

  1. Mariusz Muscharski (Persib 2003)

Persib Bandung sempat membuat revolusi, dengan memasukkan banyak nama Polandia dalam skuatnya di musim 2003. Mulai dari pelatih Marek Andrez, gelandang Piotr Orlinski, penyerang Maciej Dolega, dan kiper Mariusz Muscharski.

Dengan postur tinggi menjulang khas Eropa Muscharski memang menyakinkan untuk seorang kiper tangguh. Namun sayang hal tersebut tidak terwujud. Saat itu, gawang Persib justru begitu mudah ditaklukkan lawan. Hingga musim 2003-2004, jadi musim pertama dan terakhir Muscharski di liga Indonesia.

  1. Sergio Vargas (PSM 2004)

Tren kiper asing di liga Indonesia terus berlanjut. Kegagalan Persib dengan Muscharski tidak membuat PSM Makassar mengurungkan niat untuk mengontrak tenaga penjaga gawang asing.

Adalah mantan kiper timnas Chile Sergio Vargas yang jadi pilihan manajemen Pasukan Ramang kala itu. Datang berbekal pengalaman mentereng di timnas, meski tidak dalam usia muda (38 tahun), namun Vargas nyatanya memang masih OK.

Kiper berjuluk ‘Superman’ tersebut sukses mengantarkan PSM menjadi runner up Liga Indonesia dan melaju ke babak knock out Liga Champion Asia.

Setelah bersama PSM, Vargas pun pada 2005 menyatakan pensiun dari dunia si kulit bundar. Kalau zaman sekarang sih Vargas boleh dibilang sebagai marquee player, betul tidak?

  1. Zheng Cheng (Persebaya 2005)

Setelah tren kiper asing melibatkan Benua Eropa, Afrika, dan Amerika, pada 2005, Persebaya membuat gebrakan dengan mengontrak kiper muda Zheng Cheng (18 tahun) dari China.

Rupanya usia muda tidak membuat Zheng Cheng minder. Ia justru mampu tampil apik, dan membuat publik pecinta Persebaya benar – benar jatuh hati. Apalagi selain skill bagus, Zheng juga dikaruniai paras rupawan.

Sayangnya, ia hanya semusim memperkuat Bajul Ijo, sebelum akhirnya memilih balik ke China. Namun tak dinyana, pengalaman di Indonesia justru membuat karir Zheng melejit jauh. Kini ia jadi andalan klub raksasa Negeri Tirau Bambu Ghuangzou Evergrande. Selain itu, ia secara reguler mendapat panggilan untuk memperkuat timnas China.

  1. Sintaweechai Hatrairatanakool a.k.a Kosin (Persib 2006)

Persebaya yang sukses degan Zheng Cheng nya seperti jadi ide buat Persib untuk kembali menggunakan jasa kiper asing. Namun bukan lagi dari Eropa, melainkan Asia Tenggara, yaitu Thailand.

Dimana saat itu, selain Kosin, Persib juga mengontrak pemain asal Thailand lain, yaitu Nipont Chanarwut.

Meski tidak berpostur menjulang seperti Mariusz Muscharski, namun nyatanya Kosin mampu bermain jauh lebih bagus. Kiper berambut panjang ini punya teknik istimewa dan pembacaan bola dan permainan lawan nan jeli.

Semusim berkostum Persib, Kosin kembali ke negaranya, untuk memperkuat tim raksasa Chonburi. Setelah tiga musim di Chonburi, tepatnya pada 2009, Kosin kembali ke Persib Bandung, kali ini ia bersama rekan senegaranya Suchao Nutnum.

Penampilan apiknya tidak berubah kala itu. Sayangnya Kosin hanya setengah musim di Persib, tepatnya pada putaran pertama. Hal tersebut karena ia hanya berstatus pinjaman dari Chonburi.

  1. Evgeny Khmaruk (Persija 2007)

Romansa indah kiper asing di era Mbeng Jean, rupanya ingin kembali dijalin Persija pada musim 2007. Macan Kemayoran pun mendatangkan kiper asal Moldova Evgeny Khmaruk.

Oleh publik Khmaruk juga cukup dikenal, lantaran ia memiliki postur yang terbilang luar biasa, yaitu nyaris 2 meter, atau tepatnya 190 cm.

Penampilan Khmaruk sebenarnya terbilang apik. Namun sayang hal tersebut ternoda, setelah ia terlibat pekelahian di atas lapangan dengan penyerang Persik Kediri Cristian Gonzales.

Hal ini berimbas dengan masuknya nama Khmaruk dalam daftar hitam pesepakbola yang dilarang berkarier di Indonesia pada 2008. Hukuman ini membuat nama Khmaruk pun menghilang dari liga Indonesia.

  1. Yoo-Jae-Hoon (Persipura 2010)

Setelah beberapa musim tanpa kiper asing, pada 2010, liga Indonesia yang kala itu bernama Liga Super (ISL) kembali diramaikan, dengan kehadiran Yoo-Jae-Hoon bersama Persipura Jayapura.

Sejak pertama bergabung dengan Mutiara Hitam, Yoo langsung mampu mencuri perhatian pecinta sepak bola nasional. Kemampuan nya memetik bola di udara dan kesigapannya, benar – benar membuat lini belakang Persipura aman.

Hal tersebut juga dibuktikan Yoo, dengan menghantarkan Persipura meraih segudang prestasi, diantaranya. Juara ISL 2010-2011, 2012-2013 dan ISC A 2016, serta berhasil masuk ke babak semifinal Piala AFC pada musim 2014.

Selain Persipura Yoo juga sempat bermain untuk Persisam Samarinda, dan Bali United, sebelum kini akhirnya kini pada 2018 bermain untuk Mitra Kukar.

Berdasar prestasinya, boleh dibilang Yoo merupakan kiper asing tersukses di Indonesia hingga saat ini.

  1. Alexander Vrteski (Solo FC – IPL 2010)
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Meskipun singkat kariernya di Indonesia, dan kompetisinya sempat jadi kontroversi, namun nama Vrteski juga patut diperhitungkan.

Kiper keturunan Makedonia berpaspor Australia tersebut punya pengalaman memperkuat timnas Australia dan Makedonia di level junior.

  1. Deniss Romanovs (Cendrawasih FC – IPL 2011)

Nama kedua yang muncul dari kompetisi IPL aadalah kiper asal Latvia Deniss Romanovs. Tidak seperti Vrteski yang cepat berlalu, kiprah Romanovs boleh dibilang lumayan.

Setelah memperkuat klub asal Papua Cendrawasih FC, Romanovs pindah ke Pro Duta, dan Arema Indonesia. Semuanya adalah klub liga primer.

Setelah era IPL usai, Romanovs masih terus eksis di Indonesia. Ia dipinang oleh tim PBR Bandung Raya pada musim 2014 yang lalu. Bahkan dengan segudang pengalamanya kala itu, Romanovs berhasil menghantarkan PBR hingga ke posisi empat besar di ISL 2014 tersebut.

Komentar

komentar