STRIKER.ID – Keputusan pemerintah Kota Chongqing melarang dua pemain Filipina, Carlo ‘Kuku’ Palad dan Andrei ‘Skem’ Gabriel Ong bermain di Chongqing Major menimbulkan perdebatan. Komunitas Dota 2 menganggap sanksi larangan bermain tersebut terlalu berlebihan dan tidak dibutuhkan.

Sebelumnya Kuku dan Skem terlibiat kontroversi setelah menggunakan candaan bernada rasisme diranah kompetisi resmi. Mereka menyebut ‘Ching Chong’ yang ditujukan pada komunitas China.

Budaya Toxic Server SEA Akhirnya Memakan Korban

Meskipun cuma bercanda, namun hal tersebut ditanggapi serius oleh masyarakat China. Akhirnya pemerintah kota Chongqing mendesak penyelenggara untuk melarang keduanya ikut berkompetisi. Bahkan bisa berbuntut pencabutan hak untuk bermain di TI9 tahun depan.

Selain dilarang, keduanya juga mendapatkan sanksi yang berat dari masing-masing timnya. Kuku medapatkan sanksi berupa pemotongan gaji dari  TNC Gaming. Sementara Skem mendapatkan sanksi lebih parah berupa pemecatan.

Berita mengenai sanksi ini mendapatkan reaksi berbeda dari sejumlah komunitas Dota 2. Ada beberapa menyayangkan tindakan ceroboh keduanya, ada pula pihak yang menganggap reaksi China terlalu berlebihan.

“Skem dan Kuku meracau. Mereka menggunakan bahasa rasis dan pantas menerima hukuman yang mereka dapatkan dari tim mereka dan membuat mereka malu.

Mereka tidak pantas dihukum lebih lanjut oleh pemerintah yang meminta mereka untuk dikeluarkan dari tim mereka,” cuit salah satu caster Dota Paul ‘Redeye’ Chaloner.

Hal serupa juga diungkapkan mantan penggawa Team Secret, EternaLEnvy. Merurutnya keduanya layak diban, tapi dikucilkan apalagi dilarang tampil di China terlalu berlebihan menurutnya.

Luar Biasa, Tiongkok Bangun Kota Khusus eSport Pertama di Dunia

“Ini bukanlah rumor. Skem dan Kuku dilarang mengikuti kompetisi ini. Secara pribadi aku merasa mereka tak layak mendapatkan hukuman seberat itu. mereka tidak berniat jahat dengan mengatakan hal tersebut,” kata pemain asal Kanada tersebut.

Komentar

komentar