STRIKER.ID – Kasus rasisme yang melibatkan pemain TNC Predator, Carlo ‘Kuku’ Palad dan pemerintah Chongqing membuat Valve turun tangan. Sebagai pemegang wewenang tertinggi dalam kompetisi, Valve menelurkan tiga keputusan dimana salah satunya adalah pelarangan Kuku tampil di Chongqing Major.

Dua pemain Dota profesional asal Filipina, Kuku dan Skem mematik amarah komunitas Dota 2 China setelah melontarkan candaan bernada rasisme “Ching Cong” diranah kompetisi resmi.

Esport Akan Warnai Gelaran SEA Games 2019 Filipina

Karena hal tersebut, Skem langsung mendapatkan sanksi pemecatan dari CompLexity Gaming dan otomatis tak diikutkan dalam Chongqing manjor.

Sementara Kuku mendapatkan sanksi yang lebih ringan dari timnya, TNC. Pemain 22 tahun tersebut hanya mendapatkan sanksi pemotogan satu bulan gaji. Namun sanksi tersebut dirasa belum cukup oleh komunitas Dota 2 China. Mereka mendesak Kuku dilarang menginjakan kaki di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Menangapi kasus yang semakin runyam, Valve kemudian mengeluarkan tiga kebijakan untuk TNC Gaming selaku tim Kuku. Berikut tiga kebijakan tersebut dilansir dari Revivaltv.id.

  1. Kuku dilarang tampil di Chongqing Major 2019
  2. Sebagai sanksi, TNC akan dikurangi 20% dari perolehan poin DPC saat mengikuti Chongqing Major 2019
  3. Dengan tanpa Kuku, TNC wajib membawa seorang standin sebagai pemain pelengkap.

Sebagai pertimbangan adalah keselamatan dari Kuku sendiri. Amarah masyarakat China yang tak terbendung beresiko mematik hal-hal yang tidak diinginkan.

Kuku sendiri sudah meminta maaf atas tindakan cerobohnya tersebut. Namun tak semua anggota komunitas menerima perminta maafan tersebut.

Komunitas Dota Eropa Anggap Sanksi Yang Dijatuhkan Pemerintah Chongqing Berlebihan

Berdasar dari kasus ini, beberapa orang berpengaruh meminta Valve mengeluarkan regulasi yang jelas. Agar dimasa depan pemrosesan kasus yang serupa bisa lebih cepat dan jelas.

Komentar

komentar