photo: tribunnews.com

STRIKER.ID – Pelaku dan juga sosok yang terlibat dalam match fixing (pengaturan skor) terus diburu. Bukan saja dari internal PSSI (Komdis) yang bergerak, melainkan juga dari jajaran penegak hukum melalui Satgas Anti Mafia Bola bentukan Polri.

Nah, nyaris dua bulan bekerja, dua lembaga ini pun sudah berhasil ‘menciduk’ sejumlah orang yang terlibat match fixing. Lalu, siapa saja mereka, dan apa saja perannya? Simak ulasannya berikut ini:

Baca juga:

  1. PS Mojokerto Putera (tim kontestan Liga 2)

Adalah lembaga yang pertama kali mendapatkan hukuman dari Komdis PSSI, klub penghuni Liga 2 ini, didakwa terlibat pengaturan skor, dalam laga melawan Aceh United di babak 8 besar Liga 2.

Atas dakwaan ini Komdis pun langsung menghukum PSMP dengan tidak bisa mengikuti kompetisi Liga 2 2019. Atas keputusan ini, pihak PSMP mengaku tidak terima, dan akan naik banding melalui Komisi Banding.

Mereka merasa hukuman tersebut tidak adil, karena selama sidang, pihak PSMP tidak pernah dipanggil Komdis.

2. Krisna Adi Darma (striker PSMP)

Krisna adalah individu pertama yang mendapatkan hukuman dari PSSI atas kasus match fixing di 2018 lalu.

Krisna didakwa terlibat, karena Komdis menilai ia lah yang berperan langsung di atas lapangan. Pemain sal Yogya ini adalah sosok yang gagal menyarangkan penalti ke gawang Aceh United. Dimana penalti ini lah menjadi awal kecurigaan publik atas match fixing, hingga terus berkembang.

Krisna diputus bersalah oleh Komdis PSSI dan langsung mendapat hukuman larangan beraktivitas selama seumur hidup di lingkungan sepakbola Indonesia.

Krisna sendiri mengalami nasib kurang baik saat ini. H plus satu dia dihukum, pemain depan ini mengalami kecelakaan, yang mengakibatkan ia harus dirawat di rumah sakit hingga saat ini.

3. Bambang Suryo (manajer Metro FC/ mantan runner)

photo: Bambang Suryo beberkan cara kerja match fixing/striker.id

Sosok berikutnya yang juga dihukum PSSI adalah manajer klub Liga 3 Bambang Suryo. Mantan bek Persikab ini divonis bersalah oleh Komdis, karena kuat dugaan berusaha mengatur pertandingan dengan PS Ngada.

Vonis larangan beraktivitas di lingkungan sepakbola nasional pun dijatuhkan Komdis untuk pria yang juga mengaku sebagai mantan pelaku match fixing di masa lalu tersebut.

Uniknya hukuman ini adalah kali kedua yang diterima Bambang, setelah beberapa tahun lalu ia pernah mendapat hukuman yang sama untuk kasus serupa, sebelum akhirnya mendapat pengampunan dari Ketua Umum PSSI saat ini Edy Rahmayadi.

Atas hukuman ini, Bambang juga mengaku tidak terima. Karena sebelum putusan, ia sama sekali tidak pernah mendapat panggilan dari PSSI. Upaya banding pun akan ditempuh pria asli Malang ini.

4. Hidayat (anggota Exco PSSI)

foto: jawapos.com

Hidayat menjadi anggota Exco pertama PSSI yang harus disanksi atas pat gulipat match fixing. Ia diduga kuat memiliki peran untuk bisa mengatur hasil pertandingan antara Madura FC, melawan PSS Sleman.

Dengan dugaan yang dalam kacamata komdis terbukti tersebut, Hidayat pun dihukum dengan 3 tahun larangan beraktivitas di sepak bola nasional, ditambah denda sebesar Rp 150 juta.

5. Johar Lin Eng (anggota Exco PSSI)

foto: tribunnews.com

Johar Lin Eng menjadi sosok pertama yang diamankan oleh Satgas Anti Mafia Bola. Ia dijadikan tersangka dalam kasus dugaan permintaan sejumlah uang kepada tim Liga 3 Persibara Banjarnegara.

Hingga saat ini Johar masih dalam pemeriksaan kepolisian dengan status sebagai tersangka. Belum ada tindakan dari Komdis PSSI sendiri atas Johar Lin Eng dalam kasus ini.

6. Priyanto alias Mbah Putih (Ketua Pengprov PSSI Jateng)

Pria yang juga mantan Komisi wasit PSSI pusat ini juga sudah diamankan langsung oleh kepolisian dalam dugaan keterlibatan kasus pengaturan skor yang melibatkan Persibara. Sama seperti Johar lin Eng, Priyanto juga ditahan oleh pihak kepolisian, dan terus dimintai keteragan sampai saat ini.

Atas kasus ini, PSSI sendiri sudah mengeluarkan sanksi untuk Priyanto. Komdis menghukum pria asal Jateng ini dengan hukuman larangan seumur hidup terlibat aktivitas sepakbola nasional.

7. Anik Yuni Artika Sari (wasit futsal Jateng)

foto: screenshot from SCTV

Sama seperti Johar Lin Eng dan Priyanto, Anik diduga kuat turut serta dalam kasus match fixing yang melibatkan Persibara. Ia juga diamankan langsung oleh Satgas Anti Mafia Bola Polri. Statusnya juga dalam pemeriksaan intensif pihak kepolisian.

Bergerak cepat, Komdis PSSI juga langsung memvonis wasit wanita ini dengan larangan berkecimpung di lingkungan sepakbola Indonesia selama seumur hidup.

8. Vigit Waluyo (mantan petinggi PSMP)

Vigit Waluyo alias VW, selama ini jadi tokoh yang paling banyak dikaitkan dengan match fixing, karena dugaan perannya di banyak pertandingan. Termasuk juga pada laga yang melibatkan PSMP.

Dalam kacamatan Komdis PSSI, pria yang baru menyerahkan diri setelah sempat masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam kasus korupsi dana APBD Sidoarjo tersebut, diduga kuat memiliki peran penting dibalik PSMP selama ini.

Sehingga, Komdis pun langsung menghukum VW dengan vonis larangan beraktivitas di kancah sepakbola Indonesia selama seumur hidup.

VW sendiri saat ini posisinya ditahan oleh Kejaksaan Negeri Sidoarjo. Kabarnya, dalam waktu dekat Satgas Anti Mafia Bola juga akan memintainya keterangan.

9. Nurul Safarid (wasit asal Jawa Barat)

foto: gonews.com

Terbaru, Satgas Anti Mafia Bola menangkap seorang wasit yang diduga terlibat dalam match fixing. Nurul diduga menerima uang suap mencapai Rp 45 juta dalam sebuah pertandingan antara Persibara melawan Persekabpas Pasuruan.

Hingga saat ini Nurul masih diperiksa intensif oleh penyidik kepolisian. Komdis PSSI belum mengambil sikap atas kasus yang menimpa Nurul tersebut.

Komentar

komentar