STRIKER.ID- Timmas U-22 Indonesia akhirnya lolos dramatis ke semifinal AFF U-22, setelah di laga terakhir menang menyakinkan atas tuan rumah Kamboja dengan skor 2-0.

Kememangan ini terasa melegakan. Karena sebelumnya Garuda Muda hanya mampu bermain imbang (1-1 Myanmar, 2-2 Malaysia). Begitu pula di laga ujicoba sebelum turnamen, yang hanya selalu menghasilkan hasil imbang (1-1 Bhayangkara FC, 2-2 Arema FC, 1-1 Madura United).

Sebenarnya, hasil imbang dengan jumlah gol minim bukanlah sesuatu yang akrab bagi seorang pelatih yang kental dengan gaya menyerang seperti Indra Sjafri. Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan Timnas?

Berikut 3 faktorĀ  berdasar analisa kami yang membuat GarudaMuda dan Indra Sjafri kini jadi hemat gol.

1. Permainan berimbang

Indra Sjafri dan Timnas U-19 nya dahulu selalu kita kenal sebagai tim yang menerapkan pressing ketat, dengan pola menyerang cepat, melalui bola-bola pendek.

Gaya bermain ini memang efektif dalam mengepung pertahanan lawan dan mencetak banyak gol. Namun juga rawan di belakang, karena garis pertahanan selalu tinggi.

Hal ini yang tampaknya diubah oleh Indra Sjafri (IS). Bersama Timnas U-22 yang memiliki pemain lebih dewasa dan kematangan dalam berpikir, IS menerapkan pola permainan yang lebih berimbang dan sabar.

Kini, garis pertahanan dibuat lebih rendah, pemain juga tidak selalu menerapkan pressing ketat sejak lini depan, serta umpan juga berimbang antara pendek dan panjang.

Pola permainan ini jelas membuat Garuda Muda lebih hemat gol, tapi sebenarnya juga lebih aman di belakang + hemat energi.

2. Faktor lapangan sintetis

Selain memang strategi diubah untuk mendapatkan keseimbangan bertahan dan menyerang, bisa jadi hal ini dilakukan untuk bisa “mengakali” kondisi lapangan.

Sejak awal laga rumput sintetis Stadion Nasional Pnom Pehn memang dikeluhkan para kontestan. Karena kondisi nya buruk, dengan karet dasar lapangan yang tampak berhamburan keluar.

Kondisi tersebut membuat laju bola jadi lenbih seret dan tidak lancar ketika dimainkan secara mendatar.

Salah satu solusi dari IS, bisa jadi memang dengan bermain lebih sabar, dan menanggalkan gaya bermain bola cepat, pendek merapat yang selama ini jadi andalannya.

Meskipun tidak terlihat lancar di awal, namun lawan Kamboja kemarin, pola baru ini terlihat mulai efektif.

3. Mengecoh lawan

Faktor ketiga yang membuat IS harus tampil “beda” pada laga ini, bisa jadi karena dkarena dia perlu mengecoh lawan-lawan tandingnya.

Karena selama ini, bersama Timnas U-19, gaya dan pola bermain pelatih asal Padang ini sudah cukup dikenal tim-tim Asia Tenggara lain.

Bisa jadi menyadari hal tersebut, IS pun akhirnya mulai menerapkan pola permainan baru yang lebih berimbang. Perubahan ini sejatinya sudah tampak, sejak Timnas menggelar ujicoba pra turnamen.

Setelah melewati tiga lawan di babak grup. Kini tantangan sebenarnya untuk IS dan Garuda Muda sudah ada di depan mata. Yaitu, melewati hadangan Vietnam, yang selama ini memang selalu jadi rival besar bagi seorang Indra Sjafri.

 

Komentar

komentar