Photo: PSSI Official

STRIKER.ID – Tim nasional Indonesia mencatatkan sejarah. Dimana Timnas U-22 berhasil menjadi juara di ajang Piala AFF U22, seusai membekuk lawan tangguh Thailand 2-1 di parta final di Olympic Stadium Pnohm Pehn Kamboja, Selasa (26/02).

Keberhasilan Timnas ini cukup mengejutkan, karena memang persiapan Garuda Muda yang relatif singkat, yaitu kurang dari dua bulan, serta dibarengi dengan sengkarut persepakbolaan nasional. Begitu pula dengan hasil ujicoba anak asuh Indra Sjafri yang kurang menyakinkan di Tanah Air.

Lalu, apa yang akhirnya membuat Marinus Wanewar dkk bisa tampil luar biasa, dan melibas tim – tim tangguh Asia Tenggara, hingga akhirnya menjadi juara?

Simak ulasan khas striker.id berikut ini:

  1. Motivasi di tengah carut marut PSSI
Photo: CEO Arema FC Iwan Budianto bicara soal pemain pengganti Jaycee Jhon/Striker.id

Kami yakini, tim nasional Indonesia U-22 dan semua kru nya memang punya motivasi yang luar biasa ketika berlaga di Kamboja. Mereka ingin membuktikan, bahwa PSSI masih ada dan masih bisa untuk menghadirkan prestasi terbaik dan membawa bangga nama Indonesia di kancah internasional.

Salah satunya disampaikan oleh petinggi PSSI Iwan Budianto, ketika mendampingi Timnas berujicoba melawan Arema FC di Malang. Iwan memastikan bahwa target Garuda Muda adalah juara, meskipun kini dalam kondisi diremehkan dan dicibir oleh publik.

Tampaknya motivasi bangkit dari keterpurukan dan juga ingin membuat pembuktian kepada masyarakat ini lah, yang menurut kami jadi salah satu kunci utama, perjuangan tak kenal lelah Timnas U-22 di ajang AFC.

2. Kontra strategi Indra Sjafri 

foto: striker.id

Indra Sjafri adalah pelatih yang terkenal dengan sepakbola cantik, tiki-taka nya yang mengedepankan menyerang total dan ball possesion kuat. Hal tersebut selalu ia tonjolkan di beberapa Timnas U-19 yang pernah dilatihnya dahulu.

Namun bersama Timnas U-22, IS mengubah segalanya. Ia melakukan kontra strateginya sendiri, dan keluar dari zona nyaman gaya bermainnya selama ini.

Alih – alin memainkan sepakbola menyerang, gaya pendek merapat. IS justru lebih bermain bertahan dan mengedepankan kedalaman pertahanan. Sebelum mencoba melakukan serangan balik cepat.

Hasilnya, selama perjalanan ujicoba di dalam negeri, Timnas selalu meraih hasil imbang, dan kurang menyakinkan. Sehingga sempat membuat publik pesimis.

Namun di ajang AFF U-22, ternyata kontra strategi Indra Sjafri ini berbuah manis. Timnas jadi satu – satunya tim yang tidak terkalahkan, dengan 2x imbang, dan 3x menang. Memang Timnas tidak pernah mencetak banyak gol, tapi yang penting menang dan juara.

3. Sumardji sebagai manajer 

Langkah taktis dan strategis juga diambil dengan tepat oleh Timnas di level manajemen. Mereka menunjuk Sumardji sebagai manajer Timnas U-22 selama di Kamboja.

Tentu pemilihan pria yang juga anggota Polri  berpangkat AKBP ini juga sudah disertai pertimbangan matang, yaitu pengalaman dan prestasi.

Sebelum bersama Timnas, Sumardji merupakan manajer klub papan atas Bhayangkara FC. Yang selama dua musim terakhir berhasil dia bawa konsisten di papan atas. Bahkan menjadi juara di musim 2017 lalu.

Selain pandai dalam menata kelola tim, Sumardji juga dikenal sebagai sosok yang disiplin dan jago dalam memberikan motivasi kepada para pemain yang dia asuh.

Hasilnya, kini Sumardji sudah sukses membawa juara Bhayangkara FC dan juga Timnas U-22.

 

Komentar

komentar