Inilah Deretan Klub Raksasa Tanah Air Yang Namanya Hanya Tinggal Sejarah

STRIKER.ID Dari rentetan sejarah panjang perjalanan dunia sepak bola Indonesia, terdapat cukup banyak klub-klub yang pernah memiliki nama besar dan berjaya dimasa lalu dan kini hanya tinggal namanya saja yang tercatat di arsip sejarah. Bahkan juga masih terdapat beberapa klub yang terus untu bertahan hidup namun dengan menggunakan nama yang berbeda lantaran berbagai alasan, salah satunya ambil alih saham oleh klub atau pihak lain.

Salah satu klub yang menalami berbagaimacam perubahan untuk bisa bertahan hidup yakni Pelita Jaya. Selain itu juga ada klub Bandung Raya dan Gelora Dewata, hanya saja bedanya kedua kedua klub tersebut tak semurni dahulu.

Bandung Raya yang sempat bubar pada tahun 1997 karena krisis keuangan, kembali lahir pada 2007 lalu. Ketika itu, Bandung Raya berkompetisi di Liga Nusantara alias kompetisi amatir regional Jawa Barat. Namun pada tahun 2012, seiring akuisisi Pelita Jaya oleh pemilik saham mayoritas Bandung Raya, kedua klub ini pun melebur menjadi Pelita Bandung Raya dan sempat bermain di Indonesia Super League.

Sedangkan Gelora Dewata saat ini sudah menjadi Deltras Sidoarjo. Pemilik klub HM Mislan memindahkan homebase klub dari Denpasar, Bali, ke Sidorajo Jawa Timur. Sebelum menjadi Deltras Sidoarjo, nama klub ini sempat berubah menjadi Gelora Putra Delta. Namun tak lama, nama klub ini kembali berubah menjadi Deltra Putra Sidoarjo alias Deltras. Tahun 2003, HM Mislan menjual klub kepada Pemkab Sidoarjo.

Namun, selain tiga klub yang masih bertahan tersebut juga ada beberapa klub lain yang juga memiliki nama besar di masa lalu, hanya saja klub tersebut kini hanya tinggal nama saja. Dan berikut ini adalah deretan klub yang pernah menghiasi jagad sepakbola Tanah Air, seperti dilansir dari Fourforutwo.com

Warna Agung

Bagi penikmat sepak bola era 1970 –an, nama klub Warna Agung tentu tak asing lagi. Iya, salah satu klub yang memiliki nama besar kala itu pernah menjuarai edisi perdana Liga Sepak Bola Utama atau Galatama pada ahun 1979.

Didirikan oleh pengusaha Benny Mulyono tahun 1971 Warna Agung bermarkas di Stadion Cendrawasih, Jakarta. Jadi juara edisi perdana Galatama membuat Warna Agung semakin terkenal.

Namun, beberapa tahun kemudian, Warna Agung mengalami masalah internal. Konon, pelatih Endang Witarsa yang saa itu melatih Warna Agung ogah menerima ‘suap’ yang dulu begitu marak di Galatama. Idealisme pelatih yang akrab disapa Dokter itu membuatnya tak tahan dengan banyaknya bandar yang mengatur Galatama.

Warna Agung sempat mengikuti Liga Indonesia edisi perdana. Nama Widodo Cahyono Putro juga sempat membela klub ini. Namun, setelah musim perdana LIGINA, Warna Agung lenyap dari peradaban sepak bola Indonesia. Meski begitu, namanya masih terpatri dalam lembaran sejarah sebagai juara perdana Galatama.

Niac Mitra

Klub legendaris asal Kota Surabaya ini juga terlibat dalam pendirian Galatama pada tahun 1079. Klub yang didirkan oleh Alexander Wenas setidaknya pernah menjadi pendamping Persebaya dalam hal mengharumkan kota Surabaya.

Tercatat Niac pernah tiga kali juara Galatama, yakni pada kompetisi tahun 1981/82, 1982/83, dan 1986/87. Tak ada yang bisa menandingi Niac pada eranya. Bahkan Arsenal pun pernah merasakan jagonya Niac, dengan takluk 0-2 di Surabaya.

Namun, karena banyaknya aturan liga yang merugikan klub-klub peserta, Niac pun memilih bubar. Pemilik klub menilai liga menerapkan langkah yang salah dengan melebur dua divisi. Kerugian akibat harus bermain dengan klub-klub divisi dua yang namanya tak setenar Pelita Jaya atau Arema, membuat pertandingan-pertandingan Niac jadi sepi penonton.

Ogah mengemis ke pemerintah, Alexander Wenas pun resmi membubarkan Niac pada tahun 1991. Bantuan sempat datang dari Dahlan Iskan yang merupakan raja media kota tersebut dari Jawa Pos. Tapi Wenas tak mau ada nama Niac jika klub berpindah tangan ke Dahlan. Akhirnya Dahlan setuju meninggalkan nama Niac, yang merupakan singkatan dari New International Amusement Center yang notabene merupakan nama gedung bioskop milik Wenas. Mitra Surabaya pun terbentuk pada 1993, namun klub ini bukanlah turunan dari Niac Mitra. Sejarah Niac pun terkubur setelah bubar.

Krama Yudha Tiga Berlian

Klub yang awalnya bermarkas di Palembang sebelum akhirnya berpindah kandang ke Bekasi (yang kini menjadi Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi) ini didirikan oleh salah satu tokoh penggila bola dan pemasok mobil dan alat berat bermerek Mitsubishi, Sjarnoebi Said.

Dari catatan prestasinya di kompetisi Galatama, KTB pernah dua kali meraih juara, yakni pada tahun 1985 dan 1985/86. KTB pun merupakan salah satu klub kuat di Galatama kala itu. Pelatih Persita Tangerang dan eks timnas Indonesia, Bambang Nurdiansyah, pernah membela KTB dan menjadi top skorer pada tahun 1985.

Sayang masalah finansial membelit KTB. Setelah mundur dari ajang Piala Winners Asia 1991, KTB terang-terangan kesulitan membiayai para pemainnya. Saat itu Herry Kiswanto sampai harus mengadu ke PSSI untuk sekadar meminta haknya kepada klub.

Akhirnya setelah gaji dilunasi, KTB pun undur diri dari putaran kedua Galatama tahun 1991/92. Mereka akhirnya bubar dengan sendirinya akibat masalah finansial. Permasalahan klasik karena klub Galatama memang hidup dari uang tiket dan sponsor atau pemilik yang merangkap pengusaha.

Arseto Solo

Arseto Solo didirikan oleh putra mantan Presiden Soeharto, yakni Ari Sigit Haryodanto. Klub berjuluk Si Biru Langit ini pernah mencapai kejayaannya kompetisi Tanah Air pada musim 1991/92. Mereka berhasil meraih juara di tahun tersebut. Selain itu Arseto Solo juga selalu aktif di kompetisi sepak bola Indonesia dan turut mengikuti Liga Indonesia hingga 1998.

Awalnya Arseto bermarkas di Jakarta. Tapi pada 1983, Arseto pindah ke Stadion Sriwedari, Solo. Di Solo, Arseto berhasil memikat hati penikmat sepak bola Solo. Pasalnya, Persis Solo sudah lama tenggelam setelah melewati masa kejayaan mereka di era 1930-1940-an.

Namun, nama besar dan prestasi Arseto harus terhenti setelah liga mandek karena kerusuhan. Arseto pun dibubarkan pada tahun 1998. Terakhir Aresto tampil dikompetisi sepakbola Tanah Air saat melawan Pelita Jaya tahun 1997.