STRIKER.ID – PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) mewacanakan untuk melarang penggunaan penyerang asing pada kompetisi musim depan.

Hal tersebut berdasar, minimnya opsi pemain depan lokal yang diproyeksikan untuk mengisi slot di Timnas. Bahkan diketahui, akhir – akhir ini Pasukan Merah Putih justru menempatkan pemain naturalisasi di garda terdepan.

Namun sebenarnya apa plus minus penghapusan pemain depan asing tersebut untuk sepak bola Indonesia? Berikut ulasan khas Striker.id:

Nilai Plus

foto: bola.com
  1. Angkat potensi lokal

Nilai tambah utama, sudah pasti, seperti apa yang diharapkan oleh PSSI, yaitu mengangkat kembali potensi penyerang lokal yang selama beberapa tahun terakhir seperti tertepikan.

Klub tidak akan lagi bisa seperti sekarang, mengandalkan tenaga asing di lini depan.

Dari data yang kami miliki, semua tim di Liga 1, tanpa terkecuali sudah menggunakan tenaga asing saat ini.

Tanpa adanya pemain impor di lini depan, memaksa setiap klub akan menggunakan jasa pemain depan lokal.

  1. Keuangan klub lebih hemat

Salah satu pengeluaran terbesar sebuah klub terletak di kontrak pemain impor. Dan pemain impor yang sepertinya paling wajib ada di Liga 1 adalah striker.

Dengan adanya larangan ini, maka setiap klub tidak lagi perlu mengeluarkan budget berlebih untuk bisa mendatangkan penyerang asing di lini depan.

Dana tersebut boleh jadi, akan disisihkan klub bagi pembinaan pemain lokal di daerahnya masing – masing.

Baca juga:

Nilai minus

  1. Liga bisa lesu

Maaf, tanpa mengesampingkan peran dan kemampuan pemain lokal. Namun pemain asing yang tepat di depan, memang akan mengangkat performa dan nilai jual tim secara keseluruhan.

Bagaimana cara dan gaya mencetak gol, bisa membuat liga semakin menarik untuk ditonton. Karena patut diingat liga sepak bola adalah sebuah industri bisnis yang dibumbui hiburan bahkan juga drama.

  1. Daya saing di kompetisi level Asia berkurang

Saat ini yang juga perlu dibuat pertimbangan adalah, klub – klub Indonesia juga sudah berkompetisi di level Asia, seperti Liga Champions dan Piala AFC.

Tanpa adanya pemain asing di depan, bisa dipastikan daya gedor tim – tim sepak bola Indonesia ketika di tataran Asia akan tereduksi jauh. Apalagi calon lawan klub Indonesia, juga menggunakan jasa pemain asing.

Sehingga mungkin perlu waktu lagi bagi klub Indonesia untuk kembali menyamakan dirinya dengan tim lain asal Asia, jika regulasi ini diterapkan.

  1. Sponsor bisa berkurang

Salah satu inti dari sepak bola adalah mencetak gol. Momen inilah yang paling dinanti penggemar si kulit bundar, sejak detik pertama mereka menyaksikan pertandingan.

Nah, tanpa penyerang asing, boleh jadi jumlah dan aksi mencetak gol di Liga Indonesia akan berkurang,

Karena, para penyerang lokal, akan dipaksa berduel dengan bek – bek asing. Kami yakin secara skill pemain kita memang tidak kalah, namun pasti mereka butuh waktu beradaptasi.

Waktu adaptasi inilah yang diyakini akan membuat sepak bola sedikit kehilangan daya tariknya.

Ketika sepak bola mulai kehilangan daya tarik, artinya mereka juga mulai ditinggalkan penonton. Dan ketika ini terjadi, maka siap –siap saja para sponsor menarik diri, karena mereka sudah tidak melihat ada potensi pasar.

  1. Pesepakbola muda kehilangan ikon nya

Suka tidak suka, harus diakui bahwa sejumlah pemain depan asing jadi model pilihan bagi banyak pesepakbola usia dini.

Sebut saja seperti Cristian ‘El Loco’ Gonzales, Ilija Spasojevic, Beto Goncalves, Jacksen F Tiago dan banyak lagi pemain asing atau kini mungkin sudah dinaturalisasi, yang begitu diidolakan pemain muda.

Tanpa pemain asing, mereka mungkin akan kehilangan role player nya sebagai striker.

 

Komentar

komentar