STRIKER.ID – Keberadaan match fixing dan mafia sepakbola di kasta tertinggi Liga Indonesia ternyata bukan isapan jempol belaka. Setidaknya pada era Liga Super Indonesia (ISL) beberapa tahun yang lalu. Hal tersebut diungkap oleh mantan bek Persema Malang asal Korea Selatan (Korsel) Park Chul Hyung.

Park sudah berhenti bermain sepakbola beberapa tahun yang lalu. Pria berusia 36 tahun tersebut, dalam masa bermainnya di Indonesia sejak 2010-2013, diketahui pernah memperkuat beberapa klub kasta tertinggi ISL.

Baca juga:

Pemain dengan posisi spesialis bek tengah ini pernah bermain di Indonesia bersama Persema Malang, Semen Padang, Gresik United, Mitra Kukar, PSPS Pekanbaru dan juga Persela Lamongan.

 

Dengan pengalamannya di Liga Indonesia tersebut, Park memang sudah sangat memahami bagaimana kompetisi di Tanah Air. Termasuk juga praktek match fixing, yang menurutnya saat itu marak terjadi.

Kepada Jang Hansol pemilik akun YouTube Korea Reomit dalam sebuah wawancara yang diunggah 15 Maret 2019, Park buka – bukaan soal terjadinya match fixing dan bagaimana seringnya saat itu tim di Indonesia melakukan penundaan gaji. Bahkan menurutnya, sampai sekarang masih ada haknya yang tertahan di salah satu klub Indonesia dengan jumlah mencapai Rp 1 miliar rupiah.

foto: Park Chul Hyung (kanan) bersama Jang Hansol/ credit Korea Reomit

Kondisi  seringnya gaji yang tertunda inilah yang menurutnya membuat sejumlah pemain akhirnya suka tidak suka menerima tawaran pihak – pihak yang menginginkan pertandingan diatur hasilnya.

“Klub -klub ada yang tunda gaji pemain. Dengan kondisi lama tidak digaji, banyak tawaran dari beberapa orang, dan ada yang orang Indonesia juga agar ada pemain yang mengalah dan memanipulasi hasil pertandingan untuk kepentingan taruhan,” kata Park.

“Biasanya ada satu, sampai tiga pemain yang akan diberi uang agar bisa mengalah. Yang utama adalah pemain belakang seperti saya, kemudian kiper dan juga striker,” lanjutnya.

Park sendiri mengakui pernah mendapat tawaran semacam ini, ketika dirinya juga mengalami penundaan gaji selama hampir lima bulan di salah satu klub. Meskipun sempat hampir tergoda, namun mantan bek Jeju United Korsel ini akhirnya memilih tidak mengambil tawaran tersebut, karena dia lebih memikirkan nilai – nilai fair play yang dia yakini.

“Saya sebenarnya paling sakit hati, ketika ada yang memasang taruhan, sehingga ingin mengatur hasil pertadingan. Mereka datang kepada saya, minta agar saya mau menerima uang yang banyak dan mengalah saja. Tapi saya tolak, karena saya mau karir saya panjang d sepakbola. Padahal saat itu gaji memang kurang, karena belum dibayar,” bebernya.

Diakui Park praktek penyuapan pemain di Indonesia demi kepentingan taruhan tersebut, memang melibatkan uang yang cukup besar.

Video pengakuan Park Chul Hyung bersama Korea Reomit

Match fixing jadi fenomena di Indonesia

Match fixing dalam setahun terakhir menjadi sebuah fenomena luar biasa, yang kini berimbas dengan adanya Kongres Luar Biasa PSSI, untuk mencari Ketua Umum baru.

Berawal dari kecurigaan  publik dalam sebuah laga di Liga 2 yang melibatka klub PSMP Mojokerto. Isu ini terus bergulir, dan mendapatkan respon dari pihak Polri, dengan membentuk Satgas Antimafia bola yang bertugas membongkar praktik- praktik kecurangan di sepakbola Indonesia.

Selama enam bulan terakhir lebih bekerja, Satgas ini sudah menangkap belasan orang, yang didominasi dari PSSI, termasuk juga menjadikan tersangka Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono dalam kasus ini.

Penyelidikan dan pengembangan, masih terus dilakukan Satgas untuk bisa membongkar kasus yang diduga banyak terjadi di Liga 2 dan Liga 3 Indonesia tersebut.

Komentar

komentar