karateka-cilik-bali-berjaya-di-eropa-800-2016-10-17-053530_0

Omang Sastrawan (10) berhasil meraih dua medali emas dalam kejuaraan Coupe Internationale de Kayl 2016 di Luxemburg pada 12-18 Oktober lalu.

Dua medali emas yang diraih itu untuk kelas Kata Male U-11 dan Kumite Male U-12.

Bocah yang akrab disapa Lolak ini berhasil mengalahkan sejumlah peserta dari negara lain dalam kejuaraan yang diikuti 13 negara ini.

Siswa kelas VI SDN 2 Tamblang, Kubutambahan, Buleleng, Bali ini berangkat ke Luxemburg bersama empat peserta lain dari Jakarta dan Bandung mewakili Indonesia.

Meski begitu, Lolak tidak merasa jumawa dengan prestasi tingkat dunia yang berhasil diraihnya.

Penampilannya terlihat sederhana saat ditemui di rumah sederhananya di Desa Tajun, Kubutambahan, Buleleng, Kamis (20/10/2016).

Siang kemarin, ketika pulang sekolah tanpa banyak bicara anak bungsu dari tiga bersaudara ini mencium tangan ayahnya, Wayan Sukarta (49).

Ia baru saja tiba di Buleleng pukul 04.00 Wita usai dijamu Kementerian Pendidikan RI atas prestasinya sehari sebelumnya, Rabu (19/10/2016).

Lolak lahir dari keluarga sederhana yang tinggal di desa.

Sukarta dan istrinya, Ketut Manisyoni (50) sehari-hari hanya sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak seberapa.

Upah keduanya dalam sehari jika digabung hanya Rp 80 ribu.

Itupun tidak menentu, jika ada yang membutuhkan tenaganya maka keduanya bekerja dan mendapatkan upah.

“Makanya setiap hari bagaimana caranya biar bisa kerja, biar bisa buat sehari-hari untuk keluarga. Kalau lagi musim cengkih saya sama istri ngalap (memetik) cengkih, kalau gak musim seperti ini kami mencangkul di kebun,” kata Sukarta.

Menurut dia, Lolak mulai mengenal karate sejak usia delapan tahun ketika masih duduk dibangku kelas III SD.

Awalnya bocah ini enggan untuk ikut karate karena takut terluka dan giginya rontok ketika dipukul lawannya.

Suatu hari, ia bersama ayahnya menyaksikan kakak keduanya, Kadek Sukreni bertanding dalam kejuaraan karate di Buleleng.

komang-sastrawan-alias-lolak_20161021_103304

Namun kakaknya itu kalah oleh lawan yang secara postur tubuh lebih kecil. Sejak saat itulah, Lolak merasa jengah dan mulai berniat untuk berlatih karate.

“Masak sama lawan yang lebih kecil saja bisa kalah, kalau begitu saya juga bisa mengalahkan lawannya kakak,” kata Sukarta menirukan ucapan Lolak kala itu.

Lolak kemudian mulai berlatih karate di rumah salah satu kakeknya, Ketut Suwanda yang juga sebagai Ketua Lemkari Tajun.

“Saat pertama berlatih saya lihat dia punya bakat tersendiri, dilihat dari kuda-kudanya, dia gampang dibentuk, bisa jadi hebat,” kata Suwanda.

Terbukti setelah dua bulan berlatih, bocah ini meraih juara II dalam kejuaraan pertama yang diikutinya di Buleleng.

Sejak saat itu, Lolak meraih prestasi berturut-turut di setiap kejuaraan yang diikutinya mulai dari lokal, regional sampai nasional.

Bakat yang dimiliki Lolak tidak akan menjadikannya seorang karateka cilik yang hebat tanpa kerja keras dan disiplin.

Setiap hari, ia berlatih sehari dua kali bersama pelatihnya, Ketut Suwitra.

Pagi masih gelap, pukul 03.00 Wita ia sudah bangun dan mulai berlatih sampai pukul 06.00 Wita, dan selanjutnya berangkat sekolah.

Sore hari, ia kembali latihan dari pukul 15.00 sampai 18.00 Wita.

Kemampuannya semakin meningkat. Lolak meraih prestasi dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yang dilaksanakan Agustus 2016 lalu.

Prestasi inilah yang membuat Lolak dikirim ke Luxemburg mewakili Indonesia.

Bocah ini sempat nyaris tidak berangkat karena sulitnya mencari pendanaan untuk keberangkatannya.

“Kalau Lolak sebenarnya dia tidak ada biaya sampai ke Luxemburg karena sudah ditanggung kementerian. Tapi pendampingnya gak ditanggung. Saya dapat telepon dari kementerian di Jakarta, orangtua harus mendampingi, saya jawab mohon maaf gak bisa ikut karena tidak ada uang,” kata Sukarta.

“Saya sempat berpikir sudahlah gak usah ikut, sebelum Pak Suwanda pontang-panting cari dana, karena saya tidak tahu bagaimana cari uang, tiket pesawat saja sudah sampai puluhan juta,” tambahnya.

Beruntung ada dukungan dari pihak desa dinas dan desa adat Tajun, beserta lembaganya, seperti Bumdes, dan LPD dengan patungan mengumpulkan biaya untuk keberangkatan Lolak.

Lemkari Bali juga ikut membantu sedikit pendanaan. Akhirnya, Lolak berangkat berdua bersama Suwanda ke Jakarta, kemudian bocah ini berangkat ke Luxemburg bersama tim pelatih dari kementerian di Jakarta.

Kebanggan tersendiri bagi Lolak karena bisa berpartisipasi dalam kejuaraan internasional dan langsung meraih prestasi.

Kejuaraan di tingkat dunia ini juga memberikannya banyak pengalaman berharga. Ia harus menghadapi lawan dari negara-negara lain yang memiliki postur lebih tinggi, besar dan kuat.

“Bangga sama pelatih bisa menembuskan saya ke internasional, sangat bangga dilatih sama Pak Ketut Suwitra karena sudah melatih saya dari kecil. Lawannnya dari Prancis, Argentina dan Belanda. Susah terutama untuk kelas kumite, karena mereka lebih kuat dan tinggi,” ungkapnya.

Semua lawan-lawan itu dapat dikalahkan Lolak berkat kelincahan dan kecerdikannya.

“Jangan takut lawan dia, lawan dengan sebaiknya, lawan dengan kelincahan dan kepintaran. Habis ini berlatih terus dengan baik karena banyak sekali tantangan di setiap kejuaraan,” tambahnya.

Atas prestasinya itu, ia mendapatkan dana pembinaan Rp 11 juta dari Kementerian Pendidikan RI.

Bocah ini juga mendapatkan kabar akan mendapatkan bonus Rp 50 juta, tetapi bonus itu masih belum dapat dipastikannya.

“Kalau dapat yang Rp 50 jutanya mau buat beli sepeda motor biar gak jalan kaki lagi kalau sekolah, sebagian buat biaya berobat kakek yang sakit dan sisanya buat beli sapi, kalau masih ada sisa ditabung,” tuturnya.

 

Komentar

komentar